Senin, 12 Oktober 2009

Analogi Perbandingan: Orang Pintar dan Orang Bijak

Ada perbedaan yang sangat mendasar antara pintar dan bijak. Orang yang bijak pasti pintar, karena kebijaksanaan adalah buah dari kepintarannya. Sebaliknya, orang yang pintar tidak selalu bijak. Orang yang pintar paham betul bagaimana memanfaatkan potensi tubuh dan akal manusia, akan tetapi hanya orang bijaklah yang paham sepenuhnya bahwa tiap manusia juga memiliki hati. Dan memang demikianlah kenyataannya.



Untuk menjadi seorang pemimpin, kebijaksanaan adalah suatu hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Seorang guru yang cerdas belum tentu bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Seorang pendidik baru dikatakan berhasil jika ia telah mencetak murid-murid yang secerdas dirinya atau bahkan lebih dari itu. Dalam membimbing murid-muridnya, ia tidak hanya membutuhkan bekal ilmu yang akan di-transferkan-nya, namun juga perlu memahami hati mereka.



Tidak ada dua manusia yang sama di dunia ini. Bahkan dua orang saudara kembar siam pun memiliki selera dan keinginan yang berbeda. Seorang pemimpin yang baik harus bisa memahami fitrah perbedaan tersebut dan beradaptasi dengan kenyataan ini. Jika di dalam kelasnya ada seorang anak yang hiperaktif, misalnya, maka ia harus tahu bagaimana menangani anak yang mengalami masalah demikian. Kalau anak itu tidak mau diam, sang guru bisa saja menempelengnya atau menyuruhnya berdiri di depan kelas untuk mempermalukannya. Tapi apakah itu bijaksana? Dalam kebanyakan kasus, ini sama saja seperti menyiram api dengan bensin.



Kita bisa menemukan banyak sekali dosen yang cerdas di bidangnya. Nama mereka dikenal oleh kalangan internasional karena keahliannya dalam suatu bidang yang menjadi spesialisasinya. Tapi apakah ia mampu mengajar dengan baik? Belum tentu.



Michael Jordan adalah salah seorang pebasket terbaik yang pernah ada di muka bumi. Apakah ia juga bisa menjadi pelatih basket yang baik? Belum tentu. Sebaliknya, Phil Jackson bukanlah pemain basket yang amat menonjol di masa mudanya dahulu. Akan tetapi, sebagai seorang pelatih, ia nyaris sempurna. Menjadi pelatih dan menjadi pemain adalah dua hal yang berbeda, dan membutuhkan skill yang berbeda. Jika Anda adalah pemain, maka lakukanlah yang terbaik yang Anda bisa. Namun ketika Anda menjadi pelatih, maka Anda harus berusaha agar setiap anggota tim bisa memberikan yang terbaik dari dirinya.



Anda memiliki sebelas orang pemain terbaik, sarana berlatih dengan kualitas terbaik, tempat latihan terbaik, suporter terhebat, dan strategi paling jitu yang pernah ada dalam sejarah sepakbola sudah ada di tangan. Apakah Anda pasti bisa memenangkan pertandingan? Kalau Anda melatih dengan caci-maki, maka kemenangan belum tentu menjadi milik Anda. Anda harus bersikap bijaksana dan berusaha sebisanya agar setiap pemain mau menjalankan instruksi dengan benar, menyingkirkan egonya dan memberikan yang terbaik untuk memberikan kemenangan bagi tim. Itulah kebijaksanaan sejati yang dapat menggerakkan sekelompok manusia untuk suatu tujuan bersama.



Seorang yang bijak akan menjadi pemimpin, sedangkan seorang yang pintar hanya akan jadi pelaksana di lapangan. Seorang yang bijak akan memperoleh simpati, sedangkan seorang yang pintar hanya akan mendapatkan pengakuan. Itulah perbedaan yang menjadi jurang antara si bijak dan si pintar.



Manusia dilimpahi dengan begitu banyak orang pintar. Begitu banyak pemuda cerdas yang mampu menghapalkan seluruh buku-buku ilmu pengetahuan. Bill Gates pendiri Microsoft; Sir Arthur Conan Doyle pengarang novel Shelrock Holmes; Kevin Mitnick hacker paling di cari di seluruh negara bagian Amerika karena menjebol Pentagon dengan hanya memakai Handphone. Siapa yang meragukan kepintaran mereka?



Entah berapa banyak pemuda yang disekolahkan ke Universitas dan Institut yang bermutu, menimba ilmu. Manusia tidak pernah kekurangan tenaga untuk mencari ilmu. Begitu banyak sumber daya manusia unggul yang kita miliki. Telah banyak ilmuwan yang mengharumkan nama Indonesia di dunia sains internasional (meskipun jarang dipublikasikan). Apakah kita kekurangan orang-orang pintar? Sepertinya tidak.


Akan tetapi, kehadiran orang-orang pintar tidak menyelesaikan masalah. Dalam situasi tertentu, kadang-kadang hal ini malah menambah masalah baru, terutama dalam urusan IPTEK. Orang pintar pertama bilang bahwa dengan ber-organisasi kita bisa mendapatkan sesuatu yang gak bisa orang lain dapatkan. Orang pintar kedua bilang bahwa jangan mengharapkan apa yang organisasi berika buat loe, tapi pikirka apa yang loe berikan buat organisasi itu. Perdebatan akan terus memanas seandainya tidak ada orang bijak yang menyadarkan mereka bahwa kedua pendapat itu benar.

Kebanyakan orang pintar tidak mengerti apa artinya kerja tim. Mungkin mereka berpikir, merekalah yang paling bisa diandalkan. OTAK mereka lah yang paling jenius... Tapi kenyataannya, banyak pemimpin-pimimpin PINTAR, tidak pernah bisa mengerti keluhan bawahannya. Sama halnya PENYAKIT pada ORANG TERKENAL, mereka sulit mengenal orang lain.

JADI, APA PILIHAN LOE, PEMIMPIN YANG PINTAR APA YANG BIJAK???

komen yah... ^_^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

uLet.saGu Design by Insight © 2009